2 Dekade Britpop – Trilogi Singkat Sang Pengisi Kekosongan Kekuasaan Musik

I

Tahun 1993, Nirvana meluncurkan album ketiganya berjudul “In Utero” dan semakin menancapkan dominasinya di pentas musik dunia. Kejayaan hard rock/glam rock yang dimotori oleh Guns N’ Roses sudah berhasil dipukul KO sejak dua tahun sebelumnya oleh trio asal Seattle tersebut. Wabah grunge sedang melanda di mana-mana: anak-anak muda memanjangkan rambutnya, kemeja flanel dan jins dijual secara masif mulai dari ritel pakaian kecil di jalanan Manila hingga gerai-gerai mode terkemuka di pusat kota New York, dan lagu “Smells Like Teen Spirit” sudah bertransformasi menjadi folk anthem yang tak berhenti diputar.

Namun memasuki tahun 1994, frontman Nirvana, Kurt Cobain, secara mengejutkan ditemukan meninggal di kediamannya dalam usia yang masih sangat muda, 27 tahun. Dan Nirvana, yang sedang berada dalam masa keemasannya, secara resmi bubar. Dunia kehilangan seorang role model penting sekaligus ikon musik nomor satunya secara mendadak.

newsarticlewithkurtsbodyinbackground-small
Berita meninggalnya Kurt Cobain: akhir dari era grunge dan awal kejayaan britpop  (The Seattle Times)

Sementara itu, daratan Inggris sedang mengalami krisis identitas dalam bermusik pada tahun-tahun tersebut. Skena madchester yang dipimpin oleh The Smiths dan The Stone Roses, nyaris habis. Band-band dari skena post-punk dan new wave/electronic memang pernah melahirkan nama-nama yang dihormati dalam sejarah musik, seperti New Order, Joy Division, dan Depeche Mode, namun produktifitas para penerus mereka mandek dan tentu akan sulit bersaing bila diletakkan dalam pasar komersil musik global secara keseluruhan, dan juga masanya sudah lewat. Sementara Manic Street Preachers tidak bisa dibilang jelek, namun tetap masih jauh dari kata istimewa. U2? Mereka dari Irlandia.

u2_japan93_640
U2? Mereka dari Irlandia (clashmusic.com)

Band-band baru yang bermunculan (dan diangkat) pun tertular virus grunge dari AS. Tercatat nama-nama seperti Bush, Slowdive,dan Sleeper termasuk dalam kategori ini. Sebagai negeri dengan ego yang tinggi untuk memiliki identitas dalam berbagai hal, termasuk musik, Inggris (yang juga diiringi dengan kemampuan untuk menciptakannya serta talenta-talenta yang tak pernah habis) tentu tidak layak berada dalam kondisi ini.

II

Mundur ke tahun 1991, di tengah gencarnya gempuran musik dari Washington yang konstan ditembakkan di jalanan London mulai dari glam rock hingga grunge, band lokal bernama Suede berhasil mencuri porsi perhatian yang cukup setelah mereka meluncurkan album self-titled dan kemudian dimuat di majalah Select dengan tajuk yang melegenda: “Yanks Go Home! SUEDE” dengan memajang foto vokalis mereka, Brett Anderson (sebagai catatan, the yanks adalah salah satu kosakata yang bermakna sama dengan americans atau the sam’s army) di halaman cover dengan porsi jumbo. Pergerakan tersebut kemudian didukung dengan mulai munculnya nama Pulp dan Blur yang mulai dikenal di kalangan anak muda Inggris. Jadilah band-band ini kemudian berhadapan dengan Slowdive dkk. di kancah musik lokal Inggris dengan mengusung nama Britpop, singkatan dari british pop, yang mengangkat tema seputar Britania beserta masalah-masalah sosialnya.

suede-select
Halaman depan majalah Select tahun 1991 (waituntilnextyear.wordpress.com)

Pada tahun 1994, britpop berhasil menggapai masa keemasannya setelah Blur meluncurkan album “Parklife” dan selang beberapa waktu saja, muncul sebuah band baru dari kota Manchester bernama Oasis yang tampil menggebrak dengan album debutnya, “Definitely Maybe”, yang pada saat itu mencatatkan rekor pendapatan terbesar untuk sebuah album musik di Inggris.

Singel demi singel yang diluncurkan oleh kedua band ini direspon sangat positif tidak hanya oleh pasar Inggris, namun berkembang ke kancah global. Lagu-lagu seperti “Supersonic”, “Parklife”, “Girls & Boys”, “Live Forever”, “Cigarettes & Alcohol”, dan “Rock ‘N Roll Star” berhasil mendongkrak pamor britpop secara signifikan dan tak terbendung untuk kemudian mengantarkan Oasis dan Blur ‘berperang’  di barisan terdepan untuk mengambil tahta yang kosong sepeninggal Kurt Cobain dan Nirvana. Terakhir kali Inggris merasakan perang sedemikian rupa adalah ketika The Beatles dan The Rolling Stones beradu musik lebih dari tiga dekade sebelumnya.

nme_blur_oasis
Sampul majalah NME tahun 1994 (Wikipedia)

III

Seiring dengan melejitnya kedua band tersebut, band-band Inggris lain yang mengangkat tema serupa mulai keluar bermunculan dari sektor independen untuk kemudian menembus pasar mayor. Tercatat nama-nama populer seperti Pulp, Supergrass, Elastica, hingga The Verve menjadi sejajar dengan band-band alternative dari negara lain seperti The Cranberries, Weezer, ataupun Red Hot Chili Peppers.

pulp-commonpeople
Pulp, salah satu talenta terbaik milik skena britpop (Wikipedia)

Selepas 1994, britpop menjadi media darling nomor satu di seluruh dunia, dan pada akhirnya (suka atau tidak suka, kenyataannya) menempatkan Oasis sebagai band terbesar dan terpopuler di dunia. Imbasnya, britpop kemudian membesar secara skala, dari sekedar segmentasi musik menjadi sebuah kultur yang terdiri dari 3 hal utama: musik, fashion, dan gaya hidup. 

Musik; britpop muncul dan besar pada waktu yang sangat tepat. Mereka mulai muncul ketika masyarakat Inggris sedang stagnan dan mulai berada pada fase jenuh, merintis eksistensi untuk kemudian menjadi besar ketika musik sedang mengalami kekosongan kekuasaan dan dua gacoan mereka (Oasis dan Blur) sedang berada dalam performa terbaik dalam kariernya, didukung dengan hidupnya scene lokal yang menyambut positif perkembangan tren britpop sehingga menghasilkan banyak nama-nama baru yang ikut menguatkan eksistensi mereka.

2014liamgallagher_getty475945457080414-article_x4
Liam, jaket parka, dan rokok; satu paket lengkap, bahkan hingga sekarang (NME)

Fashion; sudah pasti dimana ada kenaikan suatu tren genre musik, maka akan diikuti oleh fashion itemnya yang tiba-tiba laku keras, semakin keras, dan sangat keras hehe. Seiring dengan diputarnya “Acquiesce” di radio-radio di Tokyo, maka akan jamak ditemui anak-anak muda berjalan di trotoar sambil membakar rokok putih dan mengenakan jaket parka ala Liam. Atau ketika radio lokal di Jakarta rutin memutar trek “Country House”, maka akan dapat ditemui pula remaja pria yang menggenakan kaos oblong atau polo polos yang agak ketat dengan rambut medium cut sedikit acak-acakan ala Albarn serta rombongan beberapa remaja lain berdandan lebih rapi dan sedikit androgyny naik panggung di sebuah kafe membawakan lagu-lagu Suede. Sedap.

Segala macam yang berbau britpop dan berkaitan dengan Inggris dengan berbagai aksesorisnya (bahkan dress sekalipun, asalkan bermotif union jack) diserap sedemikian rupa secara masal sehingga melahirkan tren fashion baru bernama Cool Britannia, yang bersama-sama dengan britpop melanggengkan tingginya pamor budaya Inggris pada waktu itu, menjajah Tokyo hingga Buenos Aires.

tumblr_inline_nnqa8nxq3i1safd2x_1280
Cool Britannia…hmm (Vanity Fair)

Gaya hidup; kembali britpop mendapatkan waktu yang tepat dalam membentuk sebuah gaya hidup yang mendukung konsep mereka. Rokok dan ganja, britpop turut andil mempertahankan dua item ini yang (semakin) tenar sejak ‘flower generation-nya Inggris’ berkuasa di 1980-an (sambil bernyanyi i wanna be adored…you adore me…). Lalu sepakbola, kedekatan musisi Inggris dengan klub sepakbola favoritnya (karena memang rata-rata mereka berasal dari kelas menengah ke bawah) memang menjadi sebuah keuntungan yang menjadikan keduanya seolah lekat dan harus ditempatkan dalam satu paket yang sama.

Gallagher bersaudara terkenal fanatik pada Manchester City, Bonehead, Reni, dan Ian Brown yang merupakan suporter Manchester United, atau Damon Albarn dengan kaos Chelsea-nya, secara langsung berpengaruh terhadap pendukung klub tersebut ataupun fans band terkait. Dengan melejitnya nama-nama di atas tadi bersama bandnya masing-masing, maka nama sepakbola Inggris pun ikut terangkat karena keidentikan mereka tadi, di mata publik internasional ataupun di media yang selama ini jadi momok buat mereka.

Sepakbola Inggris yang baru pulih dari ‘masa kegelapan’ yang diwarnai dengan stagnasi kualitas liga, tragedi di Heysel dan Hillsborough, kemudian dibekukannya keikutsertaan klub-klub Inggris dari kompetisi Eropa menjadikan sepakbola Inggris berada pada fase introspeksi total dari 1980-an akhir hingga pada 1990-an awal. Ketika masa tersebut berakhir, mereka mendapatkan momentum yang pas untuk mempercepat kembalinya pamor mereka.

Lebih jauh, kemenangan Tony Blair sebagai PM Inggris pada pemilu pasca berakhirnya era Margareth Thatcher dibumbui banyak berita terkait kedekatannya dengan Noel Gallagher, bahkan Noel menyampaikan dukungan terbukanya terhadap Blair lewat pidatonya pada malam penghargaan Brit Awards 1996. Britpop resmi menyentuh lapisan terbawah hingga teratas di tanah asalnya.

00046a8700000258-0-image-m-28_1430494499290
Bahkan politik dan britpop pun bersinggungan sedemikian rupa (Dailymail)

Situasi tersebut terus bertahan hingga meredup perlahan di tahun 1997-1998 dengan menurunnya performa Blur, kembali retaknya hubungan antar personil di Oasis, mulai hilangnya band-band lain yang sejenis dari tangga lagu lokal, serta kemunculan Robbie Williams yang kemudian kembali diambil alih oleh Washington berturut-turut lewat gelombang nu-metal, emo, dan pop punk. Britpop pun tenggelam, meskipun tidak mati.

Meskipun masa keemasannya tergolong singkat, namun britpop setidaknya ikut ambil peran dalam menjaga serta menaikkan reputasi dan kehidupan skena musik independen secara keseluruhan, terutama di daratan Inggris. Kesuksesan britpop yang berangkat dari jalur musik independen, eksplorasi musik sederhana, kafe-kafe lokal, gigs kecil, serta melibatkan kalangan kelas menengah membuatnya menjadi salah satu panutan penting dalam perkembangan musik alternative. Ya, minimal hari ini kita bisa mendengarkan lagu-lagu Coldplay, KeaneTwo Doors Cinema Club, atau Arctic Monkeys juga karena andil mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s